Jun 18, 2009

Merantau: Sisi Lain Film Indonesia


Sudah sering kita lihat film-film Indonesia dengan genre yang seragam. Yang paling laris sekarang ini (maksudnya arus pasar) adalah film horor, komedi dan cinta. Yah...bolehlah berbangga dengan menjamurnya film Indonesia. Namun, dengan rasa hormat saya masih belum bisa mengacungi jempol untuk ide cerita dan penyutradaraannya.



Ayolah...Indonesia tunjukkan sisi yang berbeda dan bermanfaat bin mendidik. Jangan hanya film bualan dengan (maaf) adegan ranjang yang kelewat batas dan kontroversi. Ingat, kita masih menganut budaya timur, bukan barat!!! Saat ini banyak film yang membidik segmen pasar yang berbeda. Namun, bagi saya...setelah Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi, masyarakat Indonesia rindu dan sangat mengharapkan ada film yang tidak umum. Nah, di sinilah kreatifitas seseorang diuji. Alinea pictures, melalui duo suami-istri, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen memberikan angin segar bagi Indonesia. Yah...sejak diputarnya Denias: Senandung di Atas Awan, duo ini mendedikasikan film-film garapannya untuk anak-anak. Setelah sukses dengan Denias, muncul Liburan Seru. Lagi-lagi mengambil tema yang tak biasa. Sekarang mereka menyuguhkan dengan sangat ciamik KING, sebuah impian seorang anak menjadi pemain bulu tangkis seperti Liem Swie King (sang legenda pemain bulu tangkis Indonesia). Garapannya sangat makcik dan tentunya dengan panorama landscape Indonesia. Asli!!! Landscape Indonesia memang menjadi andalan dalam setiap filmnya, bahkan hanya dengan lihat trailler-nya saja kita sudah berdegub kagum dengan panorama Indonesia yang ditampilkan. Jangan lupa film ini rilis 25 Juni 2009.



Setelah itu, kita tengok film dengan tema yang "aneh". Yah...film ini memang tidak umum di pasaran Indonesia. Namun, inilah yang menjadi keunggulannya. Judulnya Merantau. Film besutan Gareth Evans ini menyuguhkan adegan aksi yang memukau, asli dari Indonesia yaitu pencak silat. Tepatnya silat harimau. Meski sang sutradara bukan asli orang Indonesia yakni berasal dari Inggris, tapi saya tak meragukan garapannya. Ciamik, Boz! Ditambah adegan silat yang tak kalah seru dengan Kungfu (china, jepang) dan Muang thai (thailand). Apalagi scene yang ditampilkan pun mengambil gambar-gambar yang selama ini sutradara Indonesia tak kepikiran. Sebut saja suasana pedesaan di tanah Minang. Lembah, bukit dan ngarai yang begitu memesona. Ditambah backsound music-nya yang tak kalah maknyus. Siiip...asli orang Indonesia!!




Dalam film ini, menurut saya, sisi kreatifnya adalah tema yang diambil tidak ikut arus pasar malah bertolak belakang. Namun, sekali lagi hal inilah yang menjadi kekuatan film ini. Iko Uwais, pemeran utama Yuda (sosok pendatang baru) sangat fantastik melakoni adegan demi adegan. Maklum, pencarian sosok karakter Yuda tak diperoleh dengan mudah, namun penuh dengan tantangan. Salah satunya adalah jago silat beneran, bukan silat dari latihan. Dalam film ia disandingkan dengan Sisca Jessica (Astri), sosok perempuan korban trafickking yang akan dibawa ke Eropa.




Selain, adegan silat dan scene yang bagus, film ini juga didukung oleh aktris kawakan, yaitu Chistine Hakim. Sosok langganan peraih Piala Citra serta lebih dikenal dengan filmnya Daun di Atas Bantal (1998) dan Pasir Berbisik (2000). Ia memerankan ibu Yuda. Ditambah aktor Donny Alamsyah (Yayan) yang berperan sebagai kakak Yuda.



Cerita film ini sendiri mengisahkan tentang Yuda yang sudah beranjak dewasa ingin merantau. Hal ini sesuai dengan adat yang ada di tanah Minang bahwa bagi laki-laki dewasa, merantau merupakan "kewajiban" untuk menunjukkan jati dirinya. Apalagi diperkuat oleh kakak Yuda yang gagal merantau dan kembali ke rumah. Namun, sang ibu mengingikan anaknya agar mengurungkan niat itu. Tapi, Yuda sudah terlanjur berniat. Sesampai di Jakarta, ia bingung akan melakukan apa. Ketika dalam keadaan inilah ia bertemu dengan Asri secara tak sengaja yang dibawa oleh para cukong penjualbelian manusia ilegal. Dari sinilah adegan demi adegan silat terjalin dengan hebat.



Adapun penata koreonya asli diambil dari orang Minang yakni Edwel Datuk (Rajo Gampo Alam) atau tetua Pencak Silat Tenaga Dasar (PSTD) silat harimau. Selain itu dibantu asistenya yang tak lain Master dari silat harimau yaitu Sugeng Riyadi, Yayan Ruhian dan Muhammad Sani.

Pengambilan gambar dilakukan di Bukit Tinggi dengan panorama bukit, lembah dan ngarai. Sementara di Bekasi pengambilan gambar dilakukan di terminal peti kemas. Dan di Jakarta dilakukan di rusun dan daerah sekitarnya. Sesuai dengan data yang ada, pengambilan gambar dilakukan selama 10 pekan. Hiyuh!!!

Tunggu apalagi, inilah kreatifitas yang muncul dari kotak! Ingin tahu aksi Jackie Chan versi Indonesia? tunggu di 6 Agustus 2009. Aku Bangga Indonesia! []


Film lain yang layak ditonton:
Garuda di Dadaku (http://www.garudadidadaku.com/)

Gambar dan Foto di atas diambil dari:
http://www.merantau-movie.com/

Ingin lihat traillernya? Silakan cek di:
Garuda di Dadaku:
http://www.youtube.com/watch?v=wj716FvbYqQ
Merantau: http://www.youtube.com/watch?v=PtkLFm3QrmA
King: http://www.youtube.com/wacth?v=SUnfAONp9g4


4 comments:

aklam said...

vic, film merantaunya kamu ada ndak? mau doooong :p

anak semeru said...

@ aklam: maaf gan...ne blum rilis, agustus baru meluncur so aq g punya pilemnya...trailernya liat aja di utube. aq dah hafal kok jalan critanya palagi tetek bengek ttg pilemnya...eh...kreatif jg u/ nyiasati semuanya.

MUHAMMAD YULIAN MA'MUN said...

udah bosan ama film horror....

anak semeru said...

@ yulian: iya nih..horror dah g seru...kalopun ada, levelnya dah di bawah, maksud saya dah g brmutu...alias itu-itu aja. MERANTAU nih baru yg namanya pilem!