Aug 29, 2010

Hancurkan Arogansi Malingsia!



Masih teringat di bulan kemerdekaan RI ini. Bertepatan dengan bulan Ramadhan juga, Indonesia harus menerima kado pahit dari negara tetangga. Peristiwa 13 Agustus 2010, menjadi momok dan pengelupas luka yang sudah berkali-kali dilakukan oleh negeri Jiran, Malaysia. Semoga ini bukan kado pahit seperti Palestina-Israel yang pada tahun sebelumnya juga terjadi di bulan Ramadhan.

Goresan luka yang belum sembuh itu sudah digarami lagi oleh Malaysia. Mulai dari klaim budaya, perbatasan, penyiksaan dan pembunuhan TKI dan sebagainya. Dengan dalih lagu lama "negara serumpun", mereka dengan entengnya menginjak-injak harga diri dan kedaulatan NKRI. Indonesia sendiri bukan tanpa bergeming dan marah, namun lebih dari itu. Masih ingat peristiwa Reog Ponorogo, Angklung dan Batik. Semuanya itu masih belum menjadi jera bagi negara tetangga kita itu. Meski banyak yang menilai pemerintahan lamban dan kurang tegas menyikapi hal ini, namun jalur-jalur negosiasi sudah ditempuh. Bak muntap, semua itu tak berpengaruh dengan hati rakyat yang sudah menilai perlakukan Malaysia sudah sangat biadab.

Di dalam negeri sendiri, atmosfer kemarahan sudah mendidih lantaran ini adalah kejadian yang kesekian kali dan luka lama yang terpendam muncul lantaran pemicu ini. Jangan salahkan pihak-pihak tertentu yang melakukan demo dengan kekerasan atau semacamnya, karena dalam ilmu Psikologi Sosial: Psikologi Massa, sekelompok orang yang mempunyai "kata" yang sama akan menyatu dan jika sudah menyatu maka apapun yang dikatakan oleh komandan mereka maka itulah aksi massal mereka. Secara kasar, jika sudah menyatu maka psikologis mereka bukan lagi individu, namun massa (kelompok). Ini pula yang didukung dengan acuan negara demokrasi.

Berbeda dengan Malaysia, karena masih ada aturan dan "kekangan" dari pemerintah dalam berpendapat, maka gemuruh demopun dan berkecambah. Mereka merasa adem ayem saja dengan isu-isu ini karena mereka takut jika mereka bergolak atau berpendapat, maka mereka harus siap menerima konsekuensinya. Kalaupun ada demo, mungkin hanya dari etnis Melayu sebagai penguasa negeri, bukan dari etnis Arab, India maupun China. Karena etnis selain Melayu mendapat perlakuan yang berbeda sehingga mereka merasa "malasa" jika harus berurusan dengan tetek bengek negara. Atau mungkin mereka sudah tidak punya nasionalisme ya?

Malaysia boleh marah dengan perlakukan kita terhadap mereka terlebih demontrasi "Bendera" yang melempar @$#! ke gedung Kedubes Malaysia. Namun, kita pantas marah dan lebih karena mereka telah menginjak harga diri dan kedaulatan bangsa secara terulang.

Sebagai penutup, saya kutipkan pidato Bung Karno "Ganyang" Malaysia:


Kalau kita lapar, itu biasa

Kalau kita malu, itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganyang…

Ganyang… Malaysia

Ganyang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita baja

Peluru kita banyak

Nyawa kita banyak

Bila perlu satu (lawan) satu!


Catatan: 2 gambar di atas saya foto dari kaos saya yang diberi oleh seseorang. Mungkin kaos itu sudah lama ada, kira-kira peristiwa pertama kali Malaysia berulah.[]

Aug 17, 2010

#merdeka!


Pekikkan Merdeka! Agar seluruh dunia tahu tentang Indonesia dengan ber-twitter ria #merdeka!

Aug 16, 2010

Ngabuburit Sore


Sore-sore menjelang Magrib untuk berbuka puasa, biasanya banyak orang-orang yang melakukan jalan-jalan sekedar menanti waktu berbuka, termasuk saya. Sudah barang tentu banyak hal yang unik ketika sore di waktu Ramadhan. Coba deh tengok di sekitar kita, pasti kita akan menemukan yang namanya penjaja menu buka puasa, ta'jil, bazar dan lain sebagainya. Saya pun tak mau ketinggalan, saya juga menghabiskan waktu menanti Magrib dengan jalan-jalan. Saya paling suka membeli es campur. Hehehehe...atau ada yang menyebutnya es buah dan rumput laut. Namun, apapun itu, saya sangat menyukai suasana sore menjelang Magrib itu. Apalagi ketika suara adzan berkumandang. Waduh...lega banget bisa berbuka dengan nikmat-Nya. Selamat berbuka puasa...[]

Aug 14, 2010

Eat, Pray, Love


Bali. Menjadi dasar kuat yang melatari film Eat, Pray, Love. Bukan tanpa sebab, Bali dijadikan sebagai ending dari rangkaian cerita dalam film yang diadaptasi dari judul yang sama karangan Elizabeth Gilberth. Dari beberapa foto penggalan film yang saya ambil dari imdb.com, banyak sekali menyuguhkan social culture Bali yang sangat indah. Bahkan di trailer-nya saja, pada opening disuguhkan Bali dengan latar sawah dan gunung Batur. Sungguh menawan!

Sebagai info, film ini menceritakan tentang Gilberth yang diperankan oleh aktris cantik Julia Robert. Gilberth adalah seorang jurnalis yang resah mencari makna hidup. Dan pada perkembangannya, dia telah memiliki semuanya, termasuk suami, rumah dan karir. Namun, bukanlah kebahagiaan yang dia raih, melainkan keresahan yang semakin mendalam. Apalagi setelah bercerai dari suaminya sehingga dia sangat depresi dan mengalami hari-hari yang sangat kritis. Untuk memulihkan keadaannya, maka dia mengambil langkah yang sangat ekstrem. Dia ingin menenangkan diri dengan berpetualangan ke penjuru dunia. Dia rela meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dicintainya selama ini. Dia meninggalkan segala hal yang telah diperoleh.

Bukan keputusan yang mudah untuk menjalani hal tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi 3 negara yang menurutnya mewakili apa yang dia cari selama ini. Negara pertama adalah Italia, dengan beragam budaya dan kekhasan aneka masakannya. Di sini dia memahami adanya filosofi dalam makna kehidupan mengenai Eat (makan). Karena memang masakan Italia dikenal dengan resep-resep yang khas dan mendunia. Setelah puas di Italia, dia menuju ke India. Di sini, dia memahami tentang makna hidup dengan adanya penyerahan diri kepada Tuhan, Pray (ibadah). Mengenal sisi spiritualitas yang sangat mendalam di padepokan Hindu India.

Dan terakhir dia menuju ke Bali, Indonesia. Di sinilah alur cerita itu berakhir. Selama di Bali, dia menjadi murid dari seorang dukun lokal yang sangat arif, Ketut Liyer, diperankan Hadi Subiyanto. Banyak hal yang dia dapatkan selama menjadi murid Ketut Liyer. Bahkan, dia mengenal dan memahami serta menemukan kembali makna cinta (Love) selama di Bali. Cinta yang dia cari selama ini berlabuh kepada Felipe, diperankan oleh Javier Bardem. Sungguh menjadi akhir perjalanan dan jalinan cinta yang dia dambakan selama ini. Film Eat, Pray, Love telah rilis tanggal 13 Agustus 2010 di Amerika Serikat. []