




Udara dingin seakan terus menusuk tulang saya. Untung saya memakai jaket agak tebal, namun lupa tak bawa penutup muka dan sarung tangan. Tapi tak apalah, toh tujuan kami hanya sampai hutan. Akhirnya, saya pun meneruskan perjalanan untuk mencari objek yang lebih bagus. Namun, di tengah jalan, kami bertemu dengan mobil yang dikendarai oleh orang Bali yang ketemu di Pura tadi. Saya pikir kayaknya mereka ke Pura yang ada di kaki Semeru, yaitu pura yang berada di desa Ranupani. Yah, desa yang empat tahun lalu saya lihat. Saya pun penasaran dan menawarkan kepada Fuad. Dan lagi-lagi dia mengiyakan, namun sungguh bodoh, kami tak mengisi bensin di perkampungan tadi. Terakhir isi bensin di SPBU dekat rumah, itupun hanya satu liter karena kami pikir cukup untuk ke Pura saja. Eh ndilalah, rasa penasaran kami kok tambah jauh. Mau balik ke perkampungan juga lumayan jauh. Akhirnya, berbekal petunjuk jalan bahwa tempat yang akan kami tuju yaitu Ranupani hanya 27 kilometer, maka kami memberanikan diri ke sana dengan bekal bahwa bensin di motor menunjukkan angka 292,xxx. Asumsi kami, jarak 27 kilometer cukup ditempuh dengan bensin kami yang bisa menempuh jarak 29 kilometer lebih. Apalagi tekad kami juga didukung bahwa jika bensin habis, kami bisa minta tolong kepada orang Bali yang membawa mobil tadi.


Dan berangkatlah kami. Di tengah perjalanan keanehan mulai muncul, angka meter bensin tak menunjukkan tanda-tanda perubahan alias pengurangan jarak. Ah, mungkin sedang error, kamipun melanjutkan perjalanan dengan santai. Kemudian berhenti sejenak untuk mengambil objek gunung Semeru yang kebetulan berada di samping kiri kami dengan view yang indah karena cuaca saat itu mendukung. Perjalanan pun lanjut.
tebing kematian: konon ada pemanjat tebing yang jatuh dan meninggal







Ranupani, desa rahasia yang dimiliki Semeru yang biasanya digunakan sebagai tempat transit bagi siapa saja yang ingin mendaki ke gunung Semeru. Karena di sana ada tempat perijinan pendakian dari balai konservasi kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru. Ranupani, desa yang sangat saya cintai, yang sudah empat tahun saya tak mengunjunginya kembali. Kali ini, saya disuguhi dengan pemandangan-pemandangan luar biasa. Hamparan tanaman kentang, bawang, sayur kol kubis, sawi dan kacang-kacangan. Termasuk, hamparan bunga yang sungguh indah. Tak kecuali Ranu (danau) yang menjadi ciri khas Ranupani. Sungguh perjalanan yang tak mungkin saya lupakan. Sampai-sampai saya ingin mempunyai rumah, teman ataupun kerabat di Ranupani sehingga memudahkan dan mendekatkan saya dengan Ranupani. Ranupani, the Secret Village of Semeru. I love it![]






















